Sosialisasi Ogoh-ogoh Untuk Menyambut Nyepi 2016

Perayaan Tahun Baru Caka atau yang dikenal dengan Hari Raya Nyepi di Bali tidak bisa lepas dengan perayaan tawur kesanga alias malam pengerupukan yang belum lengkap tanpa kehadiran ogoh-ogoh. Nyepi Ogoh-ogoh biasanya berbentuk kala atau raksa dengan muka seram atau tokoh-tokoh yang lagi trend di kalangan masyarakat.

Ilustrasi Parade Ogoh - Ogoh Kota Denpasar
Sumber Foto : google.co.id
Perkembangan ogoh-ogoh dari tahun ke tahun bisa bisa dibilang makin kreatif dan berkembang,baik bahan pembuatan, tema dan variasi bahkan beberapa tahun belakangan ini ogoh-ogoh yang dibuat tidak hanya berupa satu tokoh tetapi beberapa tokoh dengan cerita latar atau cerita tertentu.

Untuk menyambut Nyepi 2016 Pemerintah Kota Denpasar bersama Dinas Kebudayaan mengadakan sosialisasi ogoh-ogoh bertujuan untuk menampung aspirasi kreatif sekaa Teruna Teruni (STT) yang ada di kota Denpasar, serta menjadikan tradisi ogoh-ogoh sebagai salah satu ikon budaya unggulan kota Denpasar, dan merayakan pergantian Tahun Caka 1938 secara tertib dengan semangat kebersamaan.

Sekretaris Dinas Kebudayaan Nyoman Sujati selaku moderator, mengajak seluruh peserta untuk mengikuti sosialisasi ini dikarenakan agar tidak terjadi kekeliruan dalam menafsirkan butir-butir yang menjadi persyaratan penilaian ogoh-ogoh. Hadir pula dalam sosialisasi tersebut Ketua Sabha Upadesa W. Meganada, Farum Bendesa Butu Antara, Para Pakar, Tim Ahli dan lain-lain, Rabu (6/1) di Aula Gedung Sewaka Dharma Lumintang Denpasar.

Dalam sosialisasi tersebut semua sepakat menggunakan ulat-ulatan seperti bambu kayu, kertas, guungan,gedeg,rotan,atau penyalin, dan bahan yang ramah lingkungan. Ogoh ogoh tidak diperbolehkan menggunakan Styrofoam dan spons serta tidak diperbolehkan pada Bataran/bale tatakan ogoh-ogoh.

Seperti yang diungkapkan Guru Anom Ranuara selaku pakar sekaligus tim penilai, semua persyaratan yang dipakai dalam penilaian sudah berdasarkan kajian dan meiliki sumber yang jelas. Seperti buku tentang pedoman ogoh-ogoh yang di cetak tahun 2011 oleh Dinas Kebudayaan Kota Denpasar. Dipilihnya bambu sebagai bahan dasar mengingat bambu merupakan bahan yang ramah lingkungan dan banyak ditemui dimana-mana. Dengan menggunakan bambu sebagai alat dasar tentunya akan mengurangi jumlah pengeluaran dan juga mudah diulat.

Terbukt dari tahun kemarin, beberapa peserta sudah mampu membuat tapel dari bambu bahkan sangat bagus. Sementara Putu Marmar salah seorang pakar ogoh-ogoh dalam kesempatan tersebut banyak mengulas tentang sisi rancang bangun, bahkan Marmar sempat memperagakan bagaimana cara mengulat bambu atau kertas dan sejenisnya agar menjadi bentuk yang diinginkan (gsd)

Sumber